Monday, February 16, 2015

PELAJARAN ATAS KELALAIAN

Posted by Unknown at 10:41 PM 0 comments
Namanya Dina Ardiani. Biasa dipanggil Dina, itulah panggilan orang-orang untuk dirinya. Dina adalah seorang gadis yang beranjak dewasa, umurnya saat ini dua puluh tahun. sekarang dia sedang kuliah di universitas ternama di Medan. Tapi, dina itu jarang sekali masuk kuliah. Yang dia lakukan hanya menghambur-hamburkan uang bersama teman-temannya seperti pergi ke mall dan diskotik. Padahal uang tersebut adalah uang biaya kuliah. “temen-temen yuk kita dugem lagi hari ini! Soalnya aku baru dikirimin duit lagi sama ortu ku nih!gimana?? mau gak?” kata Dina sambil mengajak teman-teman sepermainannya dan menunjukkan Uang yang baru dia ambil dari ATM. Teman-temannya pun menyetujui ajakan Dina sambil bersorak “ Asyik!!! Kita dugem lagi nih malam ini!!”.

 Ayah dan ibu dina tergolong dalam masyarakat kelas atas. Mereka tinggal di daerah kabupaten Rantau Prapat.  Namun, mereka tidak sombong, sangat dermawan, dan taat pada agama. Sangat bertolak belakang dengan sifat dina yang sombong dan kasar. Mungkin, sifat ayah kandung dina menurun ke dina. Dan, mulai muncul saat dia berada jauh dari orang tua angkatnya. Dina di adopsi oleh orang tuanya sekarang karena ibu kandung dina meninnggal saat melahirkannya  dan ayahnya pergi entah kemana sambil membawa uang perusahaan ayah angkat dina. Ayah angkat dina dan ayah kandungnya adalah partner bisnis. Akan tetapi, ayah angkat dina tetap memafkan kesalahan yang telah diperbuat oleh ayah kandungnya walaupun ayah angkat dina tetap mencari keberadaan ayah kandungnya.

Pada suatu hari orang tua angkat dina datang mengunjunginya di medan. Namun, ketika sampai dirumah kost dina mereka tidak menemukan dina di tempat kost tidak biasanya seperti ini. Padahal sekarang sudah jam 9 malam. Kedua orang tua dina terihat sangat cemas. Terlebih lagi ibunya, “ayah!! Kok dina gak ada di tempat kost-an sih?? Ini kan sudah jam 9 malam?” kata ibu sambil mengguncang tangan ayah. “ya nih bu, hape nya gak aktif lagi! Dimana nih anak?!” kata ayah dengan nada kesal. “coba ayah telepon teman-temannya yang ayah kenal!” dengan cemas ibu dina menyuruh ayah untuk menelepon teman-teman dina. Tiba-tiba saja dering Hape ayah dina berbunyi dan tertera nomor Sari temannya dina. Dan ayah segera mengangkat hapenya. “Assalamualaikum Sari, gimana sar? Ada kabar dina?”Tanya ayah tergesah-gesah.
Lalu Sari menjawab “ Wa’alaikum salam om, ya om! sari masuk rumah sakit om, dia ada dirumah sakit yang gak jauh dari kost-an! om tahu kan rumah sakit dekat kost-an Dina? Nanti sari juga mau kesana om”, “Astaghfirullah al adzim, iya sar! Om tau kok makasih banyak ya sar!” dengan gugup ayah sudahi percakapan dengan sari tanpa mengucapkan salam dan langsung menarik tangan ibu menuju ke rumah sakit dekat kost-an D       ina. Ibu Dina pun tampak ketakukan dan cemas mendengar kabar dina masuk rumah sakit. Ayah dan ibu hanya berlari ke rumah sakit itu tanpa membawa kendaraan yang mereka bawa tadi. Tidak berapa lama ayah dan ibu Dina sampai kerumah sakit itu dan menanyakan ke resepsionis dengan tergesah-gesah, “Maaf mbak, apa ada pasien yang baru tiba namanya Dina?”, “ya pak, namanya Dina Ardiani kan? Dia ada di ruang Unit Gawat Darurat, dia pasien kecelakaan pak!” jawab suster jaga. “terima kasih banyak mbak!” kata ibu dengan cemas sambil berlari besama ayah menuju ruang UGD. Setelah ayah dan ibu berada di depan ruang UGD, keluarlah seorang dokter dari ruangan tersebut dan ayah segera menanyakan kepada dokter tentang keadaan Dina, “maaf dokter saya mau tanya, anak saya bernama Dina pasien kecelakaan apa dia dirawat diruangan ini?”, “ya betul pak, saya saat ini sedang merawat dan memantau kondisi dina, bapak dan ibu siapanya dina ya?” jawab dokter . “ kami berdua orang tuanya dina pak, jadi bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya ayah lagi kepada dokter yang merawat Dina. Dokter tersebut pun memberitahukan keadaan Dina saat ini “Dina sekarang ini sudah melewati masa kritis, ada luka benturan di kepalanya, gigi taring atasnya patah karena pukulan benda tumpul dan sedikit luka lecet. Dia tadi dibawa orang yang sedang melintas dan melihat dina lagi terkapar di pinggir jalan, tidak haya dina yang terluka, temannya dina juga terluka tapi tidak separah dina. Mungkin sebentar lagi dina segera sadar, bapak dan ibu boleh langsung melihatnya sekarang. Bapak ibu saya permisi dulu ya mau melihat hasil scanning kepala dina”, “terimakasih banyak ya dokter udah merawat dina”kata ibu ke dokter sambil tersenyum sedih karena mendengar kondisi dina anaknya. Lalu ayah dan ibu pun masuk ke ruang UGD dan menemui Dina.
           
   Tidak jauh dari pintu ruangan ada tempat tidur yang berderet, di barisan ke tiga mereka melihat dina sedang terbaring dan sedang dipasangi selang infus serta alat bantu pernapasan oleh perawat yang menjaga. Ibu pun langsung berlari menuju tempat tidur dina sambil menangis dan segera memeluk anaknya tersebut, ibunya sangat menyayangi Dina walaupun Dina bukan anak kandungnya. Ibu Dina pun langsung memeluk dan memanggil nama dina dengan menangis tersedu-sedu “Dina.. Dina.., anakku sadarlah kamu, ibu dan ayah sangat sayang kamu. Kenapa kamu jadi begini nak?”
 

Sound of the words Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos