Namanya Dina Ardiani. Biasa dipanggil Dina, itulah
panggilan orang-orang untuk dirinya. Dina adalah seorang gadis yang beranjak
dewasa, umurnya saat ini dua puluh tahun. sekarang dia sedang kuliah di
universitas ternama di Medan. Tapi, dina itu jarang sekali masuk kuliah. Yang
dia lakukan hanya menghambur-hamburkan uang bersama teman-temannya seperti
pergi ke mall dan diskotik. Padahal uang tersebut adalah uang biaya kuliah.
“temen-temen yuk kita dugem lagi hari ini! Soalnya aku baru dikirimin duit lagi
sama ortu ku nih!gimana?? mau gak?” kata Dina sambil mengajak teman-teman
sepermainannya dan menunjukkan Uang yang baru dia ambil dari ATM.
Teman-temannya pun menyetujui ajakan Dina sambil bersorak “ Asyik!!! Kita dugem
lagi nih malam ini!!”.
Ayah dan ibu
dina tergolong dalam masyarakat kelas atas. Mereka tinggal di daerah kabupaten
Rantau Prapat. Namun, mereka tidak
sombong, sangat dermawan, dan taat pada agama. Sangat bertolak belakang dengan
sifat dina yang sombong dan kasar. Mungkin, sifat ayah kandung dina menurun ke
dina. Dan, mulai muncul saat dia berada jauh dari orang tua angkatnya. Dina di
adopsi oleh orang tuanya sekarang karena ibu kandung dina meninnggal saat
melahirkannya dan ayahnya pergi entah
kemana sambil membawa uang perusahaan ayah angkat dina. Ayah angkat dina dan
ayah kandungnya adalah partner bisnis. Akan tetapi, ayah angkat dina tetap
memafkan kesalahan yang telah diperbuat oleh ayah kandungnya walaupun ayah
angkat dina tetap mencari keberadaan ayah kandungnya.
Pada suatu hari orang tua angkat dina datang
mengunjunginya di medan. Namun, ketika sampai dirumah kost dina mereka tidak
menemukan dina di tempat kost tidak biasanya seperti ini. Padahal sekarang
sudah jam 9 malam. Kedua orang tua dina terihat sangat cemas. Terlebih lagi
ibunya, “ayah!! Kok dina gak ada di tempat kost-an sih?? Ini kan sudah jam 9
malam?” kata ibu sambil mengguncang tangan ayah. “ya nih bu, hape nya gak aktif
lagi! Dimana nih anak?!” kata ayah dengan nada kesal. “coba ayah telepon
teman-temannya yang ayah kenal!” dengan cemas ibu dina menyuruh ayah untuk
menelepon teman-teman dina. Tiba-tiba saja dering Hape ayah dina berbunyi dan
tertera nomor Sari temannya dina. Dan ayah segera mengangkat hapenya.
“Assalamualaikum Sari, gimana sar? Ada kabar dina?”Tanya ayah tergesah-gesah.
Lalu
Sari menjawab “ Wa’alaikum salam om, ya om! sari masuk rumah sakit om, dia ada
dirumah sakit yang gak jauh dari kost-an! om tahu kan rumah sakit dekat kost-an
Dina? Nanti sari juga mau kesana om”, “Astaghfirullah al adzim, iya sar! Om tau
kok makasih banyak ya sar!” dengan gugup ayah sudahi percakapan dengan sari
tanpa mengucapkan salam dan langsung menarik tangan ibu menuju ke rumah sakit
dekat kost-an D ina. Ibu Dina pun
tampak ketakukan dan cemas mendengar kabar dina masuk rumah sakit. Ayah dan ibu
hanya berlari ke rumah sakit itu tanpa membawa kendaraan yang mereka bawa tadi.
Tidak berapa lama ayah dan ibu Dina sampai kerumah sakit itu dan menanyakan ke
resepsionis dengan tergesah-gesah, “Maaf mbak, apa ada pasien yang baru tiba
namanya Dina?”, “ya pak, namanya Dina Ardiani kan? Dia ada di ruang Unit Gawat
Darurat, dia pasien kecelakaan pak!” jawab suster jaga. “terima kasih banyak
mbak!” kata ibu dengan cemas sambil berlari besama ayah menuju ruang UGD.
Setelah ayah dan ibu berada di depan ruang UGD, keluarlah seorang dokter dari
ruangan tersebut dan ayah segera menanyakan kepada dokter tentang keadaan Dina,
“maaf dokter saya mau tanya, anak saya bernama Dina pasien kecelakaan apa dia
dirawat diruangan ini?”, “ya betul pak, saya saat ini sedang merawat dan
memantau kondisi dina, bapak dan ibu siapanya dina ya?” jawab dokter . “ kami
berdua orang tuanya dina pak, jadi bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya ayah
lagi kepada dokter yang merawat Dina. Dokter tersebut pun memberitahukan
keadaan Dina saat ini “Dina sekarang ini sudah melewati masa kritis, ada luka
benturan di kepalanya, gigi taring atasnya patah karena pukulan benda tumpul
dan sedikit luka lecet. Dia tadi dibawa orang yang sedang melintas dan melihat
dina lagi terkapar di pinggir jalan, tidak haya dina yang terluka, temannya
dina juga terluka tapi tidak separah dina. Mungkin sebentar lagi dina segera
sadar, bapak dan ibu boleh langsung melihatnya sekarang. Bapak ibu saya permisi
dulu ya mau melihat hasil scanning kepala dina”, “terimakasih banyak ya dokter
udah merawat dina”kata ibu ke dokter sambil tersenyum sedih karena mendengar
kondisi dina anaknya. Lalu ayah dan ibu pun masuk ke ruang UGD dan menemui Dina.
Tidak jauh dari pintu ruangan ada tempat
tidur yang berderet, di barisan ke tiga mereka melihat dina sedang terbaring
dan sedang dipasangi selang infus serta alat bantu pernapasan oleh perawat yang
menjaga. Ibu pun langsung berlari menuju tempat tidur dina sambil menangis dan
segera memeluk anaknya tersebut, ibunya sangat menyayangi Dina walaupun Dina
bukan anak kandungnya. Ibu Dina pun langsung memeluk dan memanggil nama dina
dengan menangis tersedu-sedu “Dina.. Dina.., anakku sadarlah kamu, ibu dan ayah
sangat sayang kamu. Kenapa kamu jadi begini nak?”